Kamis, 01 November 2012

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU PENDIDIKAN

Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan dan diterima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi dua saja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabang-cabangnya masing-masing. Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni, bahasa, dan sejarah.

Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakan banyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, atau barangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkan sebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities, berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Oleh karena itu, ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengan kemanusiaan.

Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini kajian epistemologi di Barat cenderung menolak kategorisasi pengetahuan (terutama dalam humaniora dan ilmu sosial) yang ketat. Pemahaman kita akan suatu permasalahan tidak cukup mengandalkan analisis satu ilmu saja. Oleh karena itu muncullah gagasan pendekatan interdisiplin atau multidisplin dalam memahami suatu permasalahan.
Tema-tema yang dahulu menjadi monopoli satu ilmu pun kini harus didekati dari berbagai macam disiplin agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Wilayah-wilayah geografis tertentu, misalnya Jawa, suku Papua, pedalaman Kalimantan, atau Maroko dan Indian, yang dahulu dimonopoli ilmu antropologi, kini harus dipahami dengan menggunakan berbagai macam disiplin (sosiologi, psikologi, semiotik, bahkan filsafat).

II.1 Filsafat
II.1.1 Pengertian Filsafat
Filsafat/Philosophia berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini terdiri dari dua kata “philos” dan “shopia”. Pilo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin dan karena ingin lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu. Sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan.
Jadi berdasarkan kutipan itu dapatlah disimpulkan bahwa filsafat adalah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak, atau cinta kebijakan.
Yang pertama kali menggunakan kata “Philoshop” adalah Socrates. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai.

II.1.2 Definisi Filsafat Menurut Para Ahli
1. Poejawijatna (1974 : 11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan fikiran belaka.
2. Hasbullah Bakry (1971 : 11) mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

3. Plato memberikan istilah dengan dialektika yang berarti seni berdiskusi. Yaitu kearifan atau pengertian intelektual yang diperoleh lewat proses pemeriksaan secara kritis ataupun dengan berdiskusi untuk mencapai kebenaran asli.

4. Aristoteles berpendapat filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika.

5. Al-farabi (Abu Nars Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan) berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-ilmu bil-mauju dat bima hiya al-maujudat)

6. Emanuel Khan mendefinisikan filsafat sebagai pengetahun yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan :
- Apa yang dapat diketahui ? (jawabannya : Metafisika)
- Apa yang seharusnya diketahui ? (jawabannya : Etika)
- Sampai di mana harapan kita ? (jawabannya : Agama)
- Apa itu manusia ? (jawabannya : Antropologi) (bakry, 1971 : 11)

7. Cirero berpendapat bahwa Filsafat adalah ibu dari semua seni (the mother of all the arts).

8. Rene Descartes (Bapak filosof modern). Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.

9. Francis Bacon, filsafat adalah induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.

10. Jonh Dewey (burlington, Vermont America) berpendapat bahwa suatu alat untuk membuat penyesuaian-penyesuaian diantara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan


II.1.3 Faedah Mempelajari Filsafat

Sekurang-kurangnya ada empat faedah dalam mempelajari filsafat :
1. Agar terlatih serius
2. Agar mampu memahami filsafat
3. Agar mungkin menjadi filosof, dan
4. Agar menjadi warga negara yang baik.

Berfilsafat ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius. Kemampuan berfikir serius diperlukan oleh orang biasa.


II.1.4 Cara Mempelajari Filsafat

Ada tiga macam metode mempelajari filsafat yaitu :
1. Metode sistematis, berarti pelajar menghadapi karya filsafat
2. Metode Historis, digunakan apabila pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya.
3. Metode kritis, digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif.


II.1.5 Objek Penelitian Filsafat

Objek yang diselidiki oleh filsafat ada dua yaitu:
1. Objek materi Yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan). Misalnya, ilmu alam objek formanya perubahan dan bangun benda. Ilmu kimia objek formanya benda. Ilmu gaya objek formanya kekuatan dan gerak benda. Sehigga ketiga ilmu tersebut di atas mempunyai objek forma yang berbeda-beda, akan tetapi ketiga ilmu tersebut mempunyai objek materi yang sama yaitu benda.
2. Objek forma yaitu sudut pandang (point of view), darimana hal itu atau bahan tersebut dipandang.

Objek materi filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. “Ada” disini mempunyai tiga pengertian yaitu :
a. Ada dalam kenyataan.
b. Ada dalam pikiran
c. Ada dalam kemungkinan.
Objek forma filsafat adalah menyeluruh (dalam memandangnya dapat mencapai hakikat/mendalam) dan umum (dalam hal tertentu, hal tersebut dianggap benar selama tidak merugikan kedudukan filsafat sebagai ilmu).


II.1.6 Ciri-ciri Pemikiran Filsafat

Beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat, yaitu:
1. Sangat umum (universal)
Pemikiran filsafat mempunyai kecenderungan sangat umum dan tingkat keumumannya sangat tinggi (the question tend to be very of general problem of the highest degree of generality) karena pemikiran filsafat bersangkutan dengan konsep-konsep yang sifatnya umum. Contoh tentang manusia, tentang kebebasan, dan lain-lain.



2. Tidak faktual (spekulatif)
Yaitu filsafat membuat dugaan-dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak berdasarkan pada bukti.
3. Bersangkutan dengan nilai
C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat adalah usaha untuk mencari pengetahuan, berupa fakta-fakta, yang disebut penilaian. Yang dibicarakan dalam penilaian adalah baik dan buruk, yang susila dan asusila dan akhirnya filsafat sebagai usaha untuk mempertahankan nilai. Maka dibentuklah sistem nilai, sehingga lahirlah apa yang disebut: nilai sosial, nilai kegamaan dan lain-lain.
4. Berkaitan dengan arti
Nilai selalu dipertahankan dan dicari. Sesuatu yang bernilai pasti tentu di dalamnya penuh dengan arti. Agar para filosof dalam menyampaikan ide-idenya sarat dengan arti, maka para filosof harus dapat menciptakan kalimat-kalimat yang logis dan bahasa yang tepat (ilmiah), kesemuanya itu berguna untuk menghindari adanya keselahan/ sesat pikir (fallacy)
5. Implikatif
Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi (akibat logis), dan dari implikasi tersebut diharapkan akan mampu melahirkan pemikiran baru, sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis: dari tesis ke anti tesis kemudian sintesis dan seterusnya ... sehingga tiada habis-habisnya.


II.1.7 Sistematika Filsafat

Hasil berpikir tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dinamakan dengan sistematika filsafat (disebut juga struktur filsafat).

Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya. Jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sitematis. Jadilah ia sistematika filsafat.

Tiga teori yang dipelajari oleh filsafat yaitu teori pengetahuan, teori hakikat dan teori nilai. Dan ketiganya punya arti tersendiri yaitu :
1. Teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan, disebut epistemologi
2. Teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri, disebut ontologi
3. Teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu disebut axiologi

1. Epistemologi

Epistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja?


2. Ontologi

Ontologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?

3) Aksiologi
Aksiologi adalah pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan model begini: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengan norma-norma moral/profesional?

II.1.8 Cabang-cabang Filsafat
Filsafat merupakan bidang studi sedemikian luasnya sehingga diperlukan pembagian yang lebih kecil lagi. Dalam pembagian tersebut tidak ada tata cara pembagian, sehingga terdapat perbedaan seperti :
Filsafat dapat dikelompokkan menjadi 4 bidang induk, yaitu:
1. Filsafat tentang pengetahuan, terdiri dari:
- Epistemologi
- Logika
- Kritik ilmu-ilmu
2. Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, terdiri dari:
- Metafisika umum (ontologi)
- Metafisika khusus
(1) Teologi metafisika
(2) Antropologi
(3) Kosmologi
3. Filsafat tentang tindakan, terdiri dari:
- Etika
- Estetika
4. Sejarah filsafat.

Pembagian filsafat secara matematis yang didasarkan pada sistematika yang berlaku di dalam kurkulum akademis :
1. Metafisika (filsafat tentang hal yang ada) 7. Sejarah filsafat
2. Epistemologi (teori pengetahuan)
3. Metodologi (teori tentang metode)
4. Logika (teori tentang penyimpulan)
5. Etika (Filsafat tentang pertimbangan moral)
6. Estetika (filsafat tentang keindahan)

Pembagian filsafat berdasarkan pada struktur pengetahuan filsafat yang berkembang sekarang ini terbagi menjadi tiga bidang, yaitu filsafat sistematis, filsafat khusus, dan filsafat keilmuan.
1. Filsafat sistematis, terdiri dari :
- Metafisika - Metodologi
- Logika - Etika
- Estetika
2. Filsafat khusus, terdiri dari:
- Filsafat Seni - Filsafat Kebudayaan
- Filsafat Pendidikan - Filsafat Sejarah
- Filsafat Bahasa - Filsafat Hukum
- Filsafat Budi - Filsafat Politik
- Filsafat Agama - Filsafat Kehidupan Sosial
- Filsafat Nilai
3. Filsafat keilmuan, terdiri dari:
- Filsafat Matematik - Filsafat Linguistik
- Filsafat Ilmu-ilmu Fisik - Filsafat Biologi
- Filsafat Psikologi - Filsafat Ilmu-ilmu Sosial

Dalam studi filsafat untuk memahaminya secara baik paling tidak kita harus memahami lima bidang pokok, yaitu :

1. Metafisika
Metafisika merupakan cabang filsafat yang memuat suatu bagian dari persoalan filsafat yang :
- Membicarakan tentang prinsip-prinsip yang paling universal.
- Membicarakan tentang sesuatu yang bersifat keluarbiasaan (beyond nature)
- Membicarakan karakteristik hal-hal yang sangat mendasar, yang di luar pengalaman manusia (immudiate experience)
- Berupaya menyajikan padangan yang komprehensif tentang segala sesuatu.
- Membicarakan persoalan-persoalan seperti : hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kemerdekaan, wujud Tuhan, kehidupan setelah mati dan lainnya.

2. Epistimologi (teori Pengetahuan)
Persoalan epistemologi berkaitan erat dengan persoalan metafisika. Bedanya persoalan epistemologi berpusat pada “apakah yang ada?” yang di dalamnya memuat :
- Problem asal pengetahuan (origin)
1. Apakah sumber-sumber pengetahuan?
2. Dari mana pengetahuan yang benar?
3. Bagaimana dapat mengetahui?
- Problem penampilan (appreance)
1. Apakah yang menjadi karakteristik pengetahuan?
2. Adakah dunia riil di luar akal, apabila ada dapatkah diketahui?
- Problem mencoba kebenaran (verification)
1. Apakah pengetahuan kita itu benar/
2. Bagaimanakah membedakan antara kebenaran dan kekeliruan?

3. Logika
Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari segenap asas, aturan, dan tatacara penalaran yang betul (correct reasoning). Pada mulanya logika sebagai pengetahuan rasional (episteme). Oleh Aristoteles logika disebutnya sebagai analitika, yang kemudian dikembangkan oleh para ahli Abad Tengah yang disebut logika tradisional. Mulai akhir abad ke 19, oleh George Boole logika tradisional dikembangkan menjadi logika modern, sehingga dewasa ini logika telah menjadi bidang pengetahuan yang amat luas yang tidak lagi semata-mata bersifat filsafati, tetapi bercorak teknis dan ilmiah. Logika modern saat ini berkembang menjadi :
- Logika perlambang
- Logika kewajiban
- Logika ganda-niai
- Logika intuisionistik dan
- Berbagai sistem logika tak baku

4. Etika
Etika atau filsafat perilaku sebagai satu cabang filsafat yang membicarakan “tindakan” manusia, dengan penekanan yang baik dan yang buruk. Terdapat dua hal permasalahan, yaitu yang menyangkut “tindakan” dan “baik buruk”. Apabila permasalahan jatuh pada ”tindakan” maka etika disebut sebagai “filsafat praktis” sedangkan jatuh pada “baik buruk” maka etika disebut “filsafat normatif”.
Dalam pemahaman “etika” sebagai pengetahuan mengenai norma baik buruk dalam tindakan mempunyai persoalan yang luas. Etika yang demikian ini mempersoalkan tindakan manusia yang dianggap baik yang harus dijalankan, dibedakan dengan tindakan buruk/jahat yang dianggap tidak manusiawi. Sejalan dengan ini, etika berbeda dengan “agama” yang di dalamnya juga memuat dan memberikan norma baik buruk dalam tindakan manusia. Karena, etika menghandalkan pada rasio semata yang lepas dari sumber wahyu agama yang dijadikan sumber norma Illahi, dan etika lebih cenderung bersifat analitis daripada praktis. Sehingga etika adalah ilmu yang bekerja secara rasio.
Sementara dari kalangan non-filsafat, etika sering digunakan sebagi pola bertindak praktis (etika profesi), misalnya bagaimana menjalakan bisnis yang bermoral (dalam etika berbisnis).

5. Sejarah filsafat
Sejarah filsafat adalah laporan suatu peristiwa yang berkaitan dengan pemikiran filsafat. Biasanya sejarah filsafat ini memuat berbagai pemikiran kefilsafatan (yang beranekaragam) mulai dari zaman pra-Yunani hingga zaman modern. Juga dengan mengetahui pemikiran filsafat para ahli pikir (filosof) ini akan didapat berbagai ragam pemikiran dari dahulu hingga sekarang. Di dalam sejarah filsafat akan diketahui pemikiran-pemikiran yang jenius hingga pemikiran tersebut dapat mengubah dunia, yaitu dengan ide-ide/gagasan-gagasan yang cemerlang.


II.2 Hubungan Filsafat dengan Pendidikan
Filsafat dan pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Brauner dan Burns (Problem in Education Philosophy) bahwa pendidikan dan filsafat itu tidak dapat dipisahkan karena yang dijadikan sasaran/tujuan pendidikan adalah juga dijadikan sasaran/tujuan filsafat yaitu kebijaksanaan.
Filsafat sebagai ilmu karena di dalam pengertian filsafat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu: bagaimanakah, mengapakah, kemanakah, dan apakah.
Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat ditangkap atau yang tampak oleh indera. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat deskripsi (penggambaran)
Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab (asal mula) suatu objek. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat).
Pertanyaan ke mana menanyakan tentang apa yang terjadi dimasa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu: Pertama, pengetahuan yang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang (kebiasaan), yang nantinya pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman. Kedua, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Ketiga, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Tegasnya pengetahuan yang diperoleh dari jawaban kemanakah adalah pengetahuan normatif.
Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam (radix) dan tidak lagi bersifat empiris, sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal.
Lebih lanjut Kilpatrick dalam bukunya “Philosophy of Education”, menjelaskan bagaimana hubungan filsafat dengan pendidikan sebagai berikut:
“Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha; berfilsafat adalah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik adalah usaha merealisasikan nilai-nilai dan cita-cita itu dalam kehidupan, dalam kepribadian manusia. Mendidik adalah mewujudkan nilai-nilai yang dapat disumbangkan oleh filsafat, dimulai dengan generasi muda; untuk membimbing rakyat membina nilai-nilai di dalam kepribadian mereka, dan dengan cara ini pula cita-cita tertinggi suatu filsafat dapat terwujud dan melembaga di dalam kehidupan mereka.”
Dengan demikian jelaslah bahwa filsafat dan pendidikan itu tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini filsafatlah yang menetapkan konsep, ide-ide dan idealisme atau ideologi yang dibutuhkan sebagai dasar/landasan dan tujuan pendidikan. Dan pendidikan merupakan usaha yang mengupayakan agar ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan bahkan membina kepribadian.
Atas dasar pemahaman itu pula maka filsafat Pancasila selain diakui sebagai dasar dan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa, tetapi juga Pancasila dijadikan filsafat dan dasar pendidikan di Indonesia.
Sebagai dasar dan filsafat pendidikan berarti Pancasila harus dijadikan landasan pemikiran dan dasar pertimbangan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia; dan juga harus dijadikan dasar pijakan/moral bagi pendidik (menjadi filsafat pendidik) di dalam melaksanakan kegiatan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar di sekolah.

PENUTUP
III.1 Kesimpulan

Filsafat adalah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak, atau cinta kebijakan. Yang pertama kali menggunakan kata “Philoshop” adalah Socrates. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Kedua, sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai (shopis).
Ada empat faedah dalam mempelajari filsafat : Agar terlatih serius, Agar mampu memahami filsafat, Agar mungkin menjadi filosof, dan Agar menjadi warga negara yang baik.
Ada tiga macam metode mempelajari filsafat yaitu : Metode sistematis, berarti pelajar menghadapi karya filsafat, Metode Historis, digunakan apabila pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya, Metode kritis, digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif.
Objek yang diselidiki oleh filsafat ada dua yaitu: Objek materi Yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan) dan Objek forma yaitu sudut pandang (point of view), darimana hal itu atau bahan tersebut di pandang.
Beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat. Yaitu: sangat umum (universal), tidak faktual (spekulatif), bersangkutan dengan nilai, berkaitan dengan arti, implikatif.
Hasil berpikir tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dinamakan dengan sistematika filsafat (disebut juga struktur filsafat). Tiga teori yang dipelajari oleh filsafat yaitu
teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan disebut epistemologi, teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri disebut ontologi, teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu disebut axiologi.
Filsafat dapat dikelompokan menjadi empat bidang induk, yaitu: filsafat tentang pengetahuan, filsafat tentang keseluruhan kenyataan, filsafat tentang tindakan, sejarah filsafat.
Pembagian filsafat secara matematis yang didasarkan pada sistematika yang berlaku di dalam kurkulum akademis :Metafisika (filsafat tentang hal yang ada), Epistemologi (teori pengetahuan), Metodologi (teori tentang metode), Logika (teori tentang penyimpulan), Etika (Filsafat tentang pertimbangan moral), Estetika (filsafat tentang keindahan), Sejarah filsafat.
Pembagian filsafat berdasarkan pada struktur pengetahuan filsafat yang berkembang sekarang ini terbagi menjadi tiga bidang, yaitu filsafat sistematis, filsafat khusus, dan filsafat keilmuan.
Dalam studi filsafat untuk memahaminya secara baik paling tidak kita harus memahami lima bidang pokok, yaitu : metafisika, epistemologi, logika, etika, sejarah filsafat.
Filsafat dan pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Brauner dan Burns (Problem in Education Philosophy) bahwa pendidikan dan filsafat itu tidak dapat dipisahkan karena yang dijadikan sasaran/tujuan pendidikan adalah juga dijadikan sasaran/tujuan filsafat yaitu kebijaksanaan.
filsafat dan pendidikan itu tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini filsafatlah yang menetapkan konsep, ide-ide dan idealisme atau ideologi yang dibutuhkan sebagai dasar/landasan dan tujuan pendidikan. Dan pendidikan merupakan usaha yang mengupayakan agar ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan bahkan membina kepribadian.
Atas dasar pemahaman itu pula maka filsafat Pancasila selain diakui sebagai dasar dan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa, tetapi juga Pancasila dijadikan filsafat dan dasar pendidikan di Indonesia.
Sebagai dasar dan filsafat pendidikan berarti Pancasila harus dijadikan landasan pemikiran dan dasar pertimbangan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia; dan juga harus dijadikan dasar pijakan/moral bagi pendidik (menjadi filsafat pendidik) di dalam melaksanakan kegiatan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar di sekolah.


Daftar Pustaka

http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/02/cuplikan-buku-filsafat-ilmu-pengetahuan.html
Kartanegara, Mulyadhi, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, Bandung: Mizan, 2003.
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Suatu Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1998.
Harry Hamersma, Pintu Masuk ke Dunia filsafat, Kanisius, Yokyakarta, 1981.
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta, 1991.
DR. Sudiardja SJ, Filsafat Etika, diklat kuliah, Yogyakarta, 1995.


1 komentar:

ivan verys mengatakan...

Blog ini bermanfaat sekali , Thanks gan !!



bisnistiket.co.id

Poskan Komentar

tianahalawa. Diberdayakan oleh Blogger.